Penjelasan Ayat Puasa, al Baqarah; 183

Taqdim

Bulan Ramadhan adalah bulan mubarak, bertabur berkah. Bulan Ramadhan adalah bulan yang menjanjikan berbagai keutamaan. Diantara keutamaan itu, bahwa pada bulan itu, peluang untuk berbuat baik sangatlah banyak, dan peluang untuk berbuat kejahatan amatlah kecil. Selain itu, Allah -ta’ala- pun menyiapkan pahala yang berlipat ganda bagi orang-orang yang melakukan kebaikan di bulan mulia tersebut. Sebagaimana ancaman yang berlipatganda –pun akan tertuju bagi orang-orang yang masih saja sempat melakukan kejahatan di bulan yang mulia tersebut. Merupakan hal yang sangat wajar bagi seorang yang akan kedatangan tamu agung untuk bergegas mempersiapkan diri menyambut kedatangannya. Maka demikianlah keadaan orang-orang beriman; rasa rindu untuk kembali berjumpa dengan Ramadhan, -tentu- menjadikan mereka –jauh-jauh hari- telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangannya. Risalah yang berada dihadapan pembaca kali ini, tidak lain adalah satu diantara wujud kerinduan tersebut. Tiada harapan yang dituju melainkan; semoga Allah menyampaikan usia-usia kami ke bulan Ramadhan, dan menjadikan Ramadhan kami lebih berkah dari Ramadhan-Ramadhan terdahulu. Semoga Allah memberi taufik-Nya kepada seluruh kaum muslimin. Allahumma amin.

Allah -ta’ala- berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾ أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿١٨٤﴾ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿١٨٥﴾ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ﴿١٨٦﴾ أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ اللّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ ﴿١٨٧﴾

Artinya; 183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,184. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma`af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. Demikianlah Allah -ta’ala- menjelaskan kewajiban dan beberapa hukum berkenaan dengan ibadah puasa. Maka berikut ini –dengan senantiasa memohon pertolongan dan taufik Allah-, akan dijelaskan hal-hal tersebut berdasarkan urutan ayat yang telah disebutkan. Wallahu waliyyu at-taufiq

Ayat 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Defenisi As-Shauum

Secara bahasa ‘ash-shaum’ berarti menahan. Allah -ta’ala- berfirman tentang perkataan Maryam –‘alaihassalam-;

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا [مريم/26]

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” (Maryam; 26) Adapun secara istilah, maka ‘as-shaum’ berarti;

الإمساك عن المفطرات مع اقتران النية به من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، وتمامه وكماله باجتناب المحظورات وعدم الوقوع في المحرمات، لقوله عليه السلام: (من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

“Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa yang disertai dengan niat, dimulai semenjak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dan kesempurnaannya akan tercapai dengan meninggalkan segala larangan, berdasarkan sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-; Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan yang tercela, niscaya Allah -ta’ala- tidaklah butuh terhadap puasa yang dilakukannya .”

Dalil Diwajibkannya Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib yang telah disepakati berdasarkan keterangan dari al-Quran dan hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Allah -ta’ala- berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al Baqarah; 183). Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhuma- berkata, dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, Beliau bersabda;

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ . فَقَالَ رَجُلٌ الْحَجُّ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ لَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَالْحَجُّ هَكَذَا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Islam itu dibangun atas lima perkara, yaitu tauhid kepada Allah -ta’ala-, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan melaksanakan haji ”. Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu Umar; ‘melaksanakan ibadah haji dan berpuasa Ramadhan wahai Ibnu Umar ?!’. Beliau berkata; tidak, ‘berpuasa Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji’, demikianlah saya mendengarnya dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” Berdasarkan dua keterangan inilah diantaranya, para ulama lantas bersepakat akan wajibnya berpuasa di bulan Ramadhan.

Keutamaan Ramadhan

Tentang keutamaan Ramadhan, maka sangat banyak disebutkan oleh para ulama di dalam buku-bukunya. Namun cukuplah hal yang menunjukkan kemuliaan ibadah puasa atas yang lainnya ketika Allah -ta’ala- mengkhusukannya sebagai ibadah yang diperuntukkan buat-Nya, sedangkan –pada hakikatnya- ibadah yang lainnya pun demikian, wajib –hanya- diperuntukkan bagi Allah -ta’ala-. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah -ta’ala- berfirman;

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Segala amalan anak cucu Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan langsung membalasnya. ” Dikhususkannya penisbahan ibadah ini kepada Allah -ta’ala-, setidaknya memiliki dua sebab, yaitu;

a. Jenis ibadah ini menuntut seseorang untuk meninggalkan perkara-perkara mubah yang sangat disenangi olehnya, hal mana menunjukkan kesungguhan yang besar dari orang tersebut dalam beribadah kepada Allah -ta’ala-.

b. Sangat kecil potensi riya dan sum’ah dari jenis ibadah ini, dimana sangat memungkinkan bagi seseorang untuk membatalkan puasanya di tempat yang tidak diketahui manusia, sedang ia menampakkan dihadapan mereka bahwa ia tengah melakukannya. Allah -ta’ala- berfirman dalam sebuah hadits Qudsi;

الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan langsung membalasnya. Ia tinggalkan makanan, minuman dan syahwatnya semata untuk-Ku.”

Kewajiban Berpuasa Bagi Umat Terdahulu

Kewajiban berpuasa juga telah ada sebelum ummat Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Allah -ta’ala- berfirman;

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ [البقرة/183]

“Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” (al Baqarah; 183). Hanya saja, aturan berpuasa bagi umat ini tidaklah sama dengan aturan berpuasa bagi ummat sebelumnya. Allah berfirman;

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا [المائدة/48]

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturannya (masing-masing) dan jalan yang terang.” (al Maaidah; 48)

Hikmah Puasa

Pada beberapa ayat dalam al-Quran, Allah -ta’ala- memulainya dengan seruan kepada orang-orang beriman –secara khsusus- dan kepada seluruh manusia –secara umum-. Misalnya, Allah -ta’ala- berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ [البقرة/153]

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (al Baqarah; 153)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ .وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ [الأنفال/20، 21]

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” (al Anfaal; 20-21)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ [البقرة/208]

” Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (al Baqarah; 208) Bila dihitung, maka jumlah seruan semisal ini disebutkan sebanyak 89 kali dalam al-Quran. Dan bila diperhatikan, maka setiap seruan tersebut pastilah diiringi -setelahnya- dengan perintah atau larangan Allah -ta’ala-. Olehnya itu, berkenaan dengan seruan ini (Wahai orang-orang yang beriman), para ulama kita –diantaranya Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu- berkata;

إذا سمعت الله يقول { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا } فأرعها سَمْعك، فإنه خير يأمر به أو شر ينهى عنه

“Apabila engkau mendengar seruan Allah -ta’ala- [wahai orang-orang beriman], maka fokuslah untuk mendengarnya. Sesungguhnya kabar yang akan disampaikan setelahnya tidak lepas dari dua hal yang sangat penting; mungkin kabar itu adalah kebaikan yang Allah -ta’ala- perintahkan agar dilaksanakan, dan mungkin pula berisi kabar akan sebuah kejahatan yang Allah -ta’ala- perintahkan untuk ditinggalkan. ”. Maka diantara ayat yang dimulai dengan seruan [wahai orang-orang beriman] adalah firman-Nya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة/183]

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al Baqarah; 183). Dengan seruan seperti ini, Allah -ta’ala- ingin agar seorang mengetahui bahwa ia memiliki Rabb (Tuhan) yang maha berkehendak dan berkuasa atas dirinya. Ia berhak menyatakan kepada hamba-Nya; kerjakan ini dan tinggalkan itu, dan wajib atas seorang hamba untuk mengatakan;

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا [البقرة/285]

“Kami dengarkan dan kami taati.” (al Baqarah; 285) Lantas bagaimana menciptakan generasi semacam ini ?. Diantaranya dengan syari’at berpuasa. Allah -ta’ala- berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة/183]

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al Baqarah; 183)

• Di dalam puasa, seorang ditempa untuk menjadi orang-orang sabar …

• Di dalam puasa, seorang ditempa untuk –juga- merasakan getirnya lapar dan haus …

• Di dalam puasa, seorang ditempa untuk mengendalikan dan mengarahkan segala potensinya kepada hal yang diridhai Allah -ta’ala-; … mengendalikan pandangannya agar tidak melihat hal-hal yang diharamkan Allah -ta’ala-, mengendalikan prilakunya agar tidak menyakiti sesama, mengendalikan tutur kata, bahkan pikiran serta keinginan. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan yang tercela, niscaya Allah -ta’ala- tidaklah butuh terhadap puasa yang dilakukannya.

” الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِم

“Puasa itu adalah perisai (dari api neraka). Maka jika salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata-kata kotor dan janganlah pula berbuat yang tidak baik. Apabila ia diganggu atau dicela oleh orang lain, maka hendaklah ia berkata; ‘saya ini puasa, saya ini puasa’. “. Olehnya, maka hikmah puasa –diantaranya- adalah;

 Mencetak manusia-manusia yang taat dan dapat mengarahkan seluruh anggota tubuhnya pada hal yang disenangi dan diridhai oleh Allah -ta’ala-.

 Mencetak manusia yang memiliki tingkat kepekaan sosial yang baik.

 Mencetak manusia yang mampu menjadikan diri mereka sebagai makhluk yang sabar. Sabar dalam melaksanakan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemungkaran dan sabar dalam menghadapi cobaan Allah -ta’ala- yang tidak baik.

 Mencetak manusia yang sehat jasmani dan rohani. Demikian ini sebagian dari hikmah disyari’atkannya ibadah puasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: