Penjelasan Ayat Puasa, al Baqarah; 184

Ayat I84

أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

(Puasa Ramadhan itu diwajibkan) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang mampu menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (syari’at yg berlaku diawal puasa, tetapi telah dihapus hukumnya sebagaimana akan dijelaskan), (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

 

Kapan Wajib Berpuasa ?

Wajib berpuasa pada bulan Ramadhan. Demikianlah makna dari firman Allah -ta’ala-;

أياما معدودات

“ (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.” Thalhah bin ‘Ubaidillah –radhiyallahu ’anhu- berkata;

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ فَقَالَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الزَّكَاةِ فَقَالَ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَالَ وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لَا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلَا أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ

“Seorang Arab Badui pernah datang kepada Rasulullah dalam keadaan rambutnya yang kusut. Arab Badui itu berkata; wahai Rasulullah, beritahulah aku tentang shalat apa saja yang wajib aku kerjakan !. Rasulullah bersabda; shalat lima waktu, kecuali jika engkau ingin menambahnya dengan melaksanakan shalat sunnah. Sang Arab badui kembali bertanya; bagiamana dengan puasa yang wajib aku kerjakan ?!. Beliau bersabda; puasa di bulan Ramadhan, kecuali jika engkau ingin melaksanakan puasa-puasa sunnah. Sang Arab badui kembali bertanya; beritahulah aku tentang zakat yang wajib aku keluarkan !. Maka Rasulullah pun mengajarinya tentang beberapa jenis syari’at agama. Kemudian sang Arab badui berkata; demi Allah, aku tidak akan menambah dan tidak pula mengurangi sedikitpun dari kewajiban-kewajibanku. Mendengar pernyataan itu, Rasulullah bersabda; sungguh beruntung orang tersebut atau sungguh ia akan masuk surga bila ia menepati perkataannya.”.[1]

Golongan Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

  1. Orang Sakit

Orang sakit dibolehkan untuk berbuka puasa dan wajib bagi mereka untuk meggantinya ketika sembuh. Allah -ta’ala- berfirman;

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”.

Secara umum, orang sakit terbagi menjadi tiga kategori;

  1. Seorang yang penyakitnya menahun dan tidak diprediksikan untuk sembuh, maka orang demikian tergolong sebagai orang-orang yang tidak mampu melaksanakan puasa, -insya Allah-, pembahasannya akan menyusul.
  2. Seorang yang diharapkan kesembuhannya, namun ia tidak mampu –sedikit pun-berpuasa karena sakitnya. Golongan ini wajib berbuka puasa dan menggantinya ketika telah sehat.
  3. Seorang yang mampu berpuasa, namun dengan susah payah. Golongan ini disunnahkan untuk berbuka puasa, dan makruh untuk tetap berpuasa.

Jenis Penyakit Yang Menyebabkan Seorang Bisa Berbuka Puasa

Dalam masalah ini, mayoritas ulama [2] berkata;

إذا كان به مرض يؤلمه ويؤذيه أو يخاف تماديه أو يخاف تزايده صح له الفطر

”Apabila ia terkena penyakit yang mengganggu dan membuatnya payah atau ia khawatir bahwa penyakit itu akan bertambah parah (dengan berpuasa), maka ketika itu boleh ia berbuka –dengan perincian hukum sebagaimana yang tersebut di atas-.”.

Selain itu, ada juga golongan ulama yang berpendapat bahwa boleh berbuka puasa disebabkan karena jenis penyakit apapun, dan terlepas dari parah atau tidaknya penyakit tersebut, -hal yang pasti- bahwa dengannya ia dinamakan tengah sakit. Ibnu Siriin –rahimahullah- berkata;

متى حصل الإنسان في حال يستحق بها اسم المرض صح الفطر، قياسا على المسافر لعلة السفر، وإن لم تدع إلى الفطر ضرورة

”Kapan seorang menderita sebuah keadaan yang dengannya ia dinamakan tengah  ‘sakit’, ketika itu boleh baginya berbuka puasa. Keadaannya sama dengan seorang musafir. Safar itu sendiri, tanpa harus mempertimbangkan jarak dan sarana transportasi yang digunakan, adalah keadaan yang membolehkan seorang untuk berbuka puasa, dan bahkan meski ia sanggup untuk berpuasa.”. Mendukung pendapat ini adalah keterangan yang disampaikan oleh imam Bukhari –rahimahullah- dengan sanadnya hingga ke Ibnu Juraij –rahimahullah-. Ibnu Juraij pernah bertanya ke ’Atha –rahimahullah-;

من أي المرض أفطر؟

”Jenis penyakit apakah yang dengannya saya boleh berbuka puasa ?.” ’Atha berkata;

من أي مرض كان، كما قال اللّه تعالى: فمن كان منكم مريضا

”Dari jenis penyakit apa saja, sebagaimana firman-Nya; Maka barangsiapa sakit diantara kalian (boleh berbuka puasa dan wajib mengqadha’nya)”.[3]

  1. Safar

Secara umum, ulama bersepakat bahwa safar adalah hal yang menyebabkan seorang diperbolehkan berbuka puasa. Namun mereka berbeda pendapat tentang kategori safar yang menyebabkan seorang dibolehkan mengqashar shalat dan berbuka puasa. Perinciannya adalah sebagai berikut;

  1. Ulama telah sepakat bahwa safar yang menyebabkan seorang dibolehkan mengqashar shalat dan berbuka puasa adalah safar taat, misalnya; safar untuk haji, jihad, bersilaturrahim, kerja, dll
  2. Safar yang mubah, menurut pendapat yang lebih tepat, -juga- menyebabkan seorang boleh mengqashar shalat dan berbuka puasa.
  3. Safar maksiat, menurut pendapat yang lebih tepat, adalah jenis safar yang tidak sah dijadikan alasan untuk mengqashar shalat dan berbuka puasa. Hal demikian disebabkan karena asal dari safar seperti ini adalah diharamkan. Maka jika asalnya telah diharamkan, tentu segala keringanan agama pun berkenaan dengan safar tersebut adalah hal yang tidak diperbolehkan.

Jarak Perjalanan Yang Dikategorikan Safar

Sebagian ulama berpendapat bahwa jarak perjalanan yang dikategorikan sebagai safar adalah kurang lebih 81 km[4], berdasarkan riwayat imam Bukhari;

وكان ابن عمر وابن عباس يقصران  ويفطران في أربعة برد وهي ستة عشر فرسخا

“ Ibnu Umar dan Ibnu ’Abbas mengqashar dan berbuka puasa pada jarak perjalanan empat burud, yaitu 16 farsakh. [5]” Demikianlah pendapat jumhur ulama.

Sebagian lagi berpendapat bahwa tidak ada ketentuan baku yang membatasi makna kata “safar”. Maka merupakan kewajiban seorang muslim yaitu memutlakkan (tidak membatasi) segala yang dimutlakkan oleh agama dan membatasi segala yang dibatasi oleh agama. Sedangkan dalam permasalahan jarak safar, tidak sedikitpun ada keterangan yang jelas dan shahih menyatakan pembatasan itu. Olehnya, masalah ini dikembalikan kepada ’urf (adat) yang berlaku dalam sebuah komunitas. Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah imam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah-.[6]

 

Adakah Batasan Waktu, Seorang masih dikategorikan Dalam Keadaan Safar?[7]

Mayoritas ulama menetapkan bahwa bermukim tidaknya seseorang tergantung niatnya. Dikatakan tergantung niat, karena bisa jadi seseorang berada di suatu tempat dalam perjalanannya, namun dia tidak pernah berniat untuk menetap di tempat itu selama jangka waktu tertentu. Sehingga kapan pun ada kemungkinan untuk kembali atau berpindah ke tempat yang lain, maka ia akan kembali atau berpindah ke tempat tersebut. Misalnya, seorang dalam perjalanan ke manca negara. Lalu karena ada masalah dengan jadwal penerbangan, ia terpaksa harus menetap di kota itu selama beberapa hari. Dan bila cuaca cerah, ia akan segera melanjutkan perjalanan. Bila keadaannya demikian, tetaplah orang tersebut dinyatakan dalam safar meski ia sempat menetap selama dua-tiga minggu.

Dalil dari masalah ini adalah keumuman keterangan-keterangan yang berisi syari’at mengqashar shalat ketika dalam safar, tanpa ada ketentuan batasan safar yang dimaksud, maka dikembalikan pengertiannya secara mutlak tanpa adanya pembatasan. Allah berfirman;

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ  _ النساء/101

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi (safar), maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu).” (an-Nisaa; 101)

Sebaliknya, bila seorang datang ke suatu kota dengan program yang sudah pasti, misalnya mengikuti training selama 5 hari, dikatakan bahwa orang tersebut sudah berniat sejak awal untuk menetap di kota itu, meski hanya 5 hari saja. Dalam keadaan demikian, mayoritas ulama menentukan adanya kadar maksimal masa menetap seseorang yang ketika itu ia dikategorikan masuk dalam hukum safar;

*) Sebagiannya ada yang menyatakan masa paling lama bagi seorang yang menetap disuatu tempat, ketika itu ia masih dikategorikan sebagai musafir adalah 4 hari,

*) ada juga yang berpendapat tiga hari, 19 hari, dan seterusnya.

Namun seluruh keterangan yang dijadikan sebagai acuan dalam penetapan batasan waktu tersebut sebagiannya adalah dalil-dalil yang diperselisihkan keabasahannya dan yang lainnya adalah dalil-dalil yang tidak tegas menunjukkan adanya pembatasan tersebut. Bahkan makna tekstual yang ada dari keterangan-keterangan itu menunjukkan tidak adanya pembatasan yang dimaksud. Diantara keterangan itu adalah;

  1. Riwayat Ibnu Abbas –radhiyallahu ’anhuma-;

أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

“Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam- pernah menetap di Mekkah selama 19 hari dan selama itu Beliau mengqashar shalatnya.[8]

  1. Riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ’anhuma-;

أقام رسول الله بخيبر أربعين ليلة يقصر الصلاة

“Rasulullah pernah menetap di Khaibar selama 40 malam, dan ketika itu Beliau menqashar shalatnya.”.[9]

Dari dua keterangan ini diantaranya, sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada ketentuan waktu, kapan seorang itu masih dinyatakan masih dalam hukum safar atau tidak. Seluruhnya kembali pada niat dan adat yang berlaku pada setiap komunitas. Demikianlah makna tekstual yang dipahami dari dua keterangan yang telah disebutkan dan demikian pula kemutlakan makna yang dipahami dari firman Allah;

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ  _ النساء/101

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi (safar), maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu).” (an-Nisaa; 101), maksudnya adalah tanpa adanya batasan waktu. Olehnya itu maka disebutkan dalam riwayat Naafi’e –rahimahullah-;

أن ابن عمر أقام بأذربيجان ستة أشهر يقصر الصلاة قال : وكان يقول : إذا أزمعت إقامة فأتم

“Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhuma- pernah menetap di Azerbaijan selama 6 bulan. Selama itu Beliau mengqashar shalatnya, dan berkata; ‘Apabila saya meniatkan mukim, niscaya saya menyempurnakan shalatku.[10]“, dipahami dari keterangan ini bahwa seorang itu akanlah tetap berstatus sebagai musafir selama ia tidak meniatkan mukim disebuah tempat. Wallahu a’lam bisshawaab

 

Bolehkah Seorang Yang Telah Berniat dan Menyiapkan Perbekalan Safar Untuk Berbuka Sebelum Ia Pergi Melaksanakan Safar ?.

Sebagian ulama berpendapat, boleh bagi seorang untuk mulai berbuka puasa di rumahnya sebelum ia melaksanakan safar. Dan bila ia telah berbuka, sedang Allah -ta’ala- mentakdirkan pembatalan safarnya, maka ia berkewajiban mengqadha puasanya itu. Dalil pendapat ini adalah riwayat dari Muhammad bin Ka’ab;

أَتَيْتُ أَنَسَ بْنِ مَالِكٍ فِي رَمَضَانَ وَهُوَ يُرِيدُ سَفَرًا وَقَدْ رُحِلَتْ لَهُ رَاحِلَتُهُ وَلَبِسَ ثِيَابَ السَّفَرِ فَدَعَا بِطَعَامٍ فَأَكَلَ فَقُلْتُ لَهُ سُنَّةٌ قَالَ سُنَّةٌ ثُمَّ رَكِبَ

”Saya pernah mendatangi Anas bin Malik di bulan Ramadhan ketika Beliau hendak bersafar, sedang Beliau telah menyiapkan perbekalannya dan memakai pakaian safar. Saat itu Beliau meminta makanan, lantas makan sebelum berangkat. Saya (Muhammad bin Ka’ab) berkata; apakah yang demikian itu sunnah ?. Beliau berkata; ya hal ini adalah sunnah.[11]

Apakah Seorang Musafir Wajib Berbuka Puasa ?

Sebagian ulama berpendapat bahwa kewajiban seorang yang musafir adalah mengqadha puasanya di hari ketika ia telah muqim. Pendapat demikian ini diriwayatkan dari Umar, Ibnu ’Abbas, Abu Hurairah dan Ibnu Umar –radhiyallahu ’anhum-. Ibnu Umar –radhiyallahu ’anhuma- berkata;

من صام في السفر قضى في الحضر

”Barangsiapa berpuasa ketika safar, maka wajib atasnya qadha ketika mukim”[12]. Abdul Rahman bin Auf –radhiyallahu ’anhu- berkata;

الصائم في السفر كالمفطر في الحضر

”Musafir yang berpuasa sama dengan seorang mukim yang tidak berpuasa.”[13]. Ka’ab bin ’Ashim –radhiyallahu ’anhu- berkata;

سمعت النبي صلى اللّه عليه وسلم يقول: (لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ

”Saya telah mendengar Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; berpuasa ketika safar bukanlah termasuk hal yang baik.”[14].

Demikianlah beberapa dalil yang dikemukakan oleh golongan ulama yang mewajibkan berbuka puasa bagi seorang yang musafir.

Dan diantara pokok dalil mereka adalah firman Allah -ta’ala-;

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka (hendaklah ia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” Dinyatakan dalam ayat ini bahwa mengqadha adalah kewajiban yang dibebankan kepada orang-orang yang tengah safar.

Namun penafsiran demikian ini kurang tepat –wallahu a’lam- karena hal yang sama –ternyata- tidaklah dikatakan kepada orang yang sakit –sedangkan keduanya digandengkan dalam satu ayat secara bersamaan-. Karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa tafsir yang tepat dari ayat tersebut adalah; “Barangsiapa diantara kalian yang sakit atau dalam perjalanan dan ia –ketika itu- tidak berpuasa, maka wajib baginya qadha”. Penafsiran ini sesuai dengan hadits Anas –radhiyallahu ’anhu- yang menyatakan;

كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

“Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, orang yang puasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa.”.[15]

 

Apakah Yang Lebih Afdhal Bagi Seorang Musafir, Berpuasa Atau Berbuka Puasa ?

Secara umum –sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya- dinyatakan bahwa seorang musafir dibolehkan untuk tidak berpuasa. Allah berfirman;

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari yang lain.” (al Baqarah; 185). Tentang hikmah pembolehannya –tentu- sangat jelas sebagaimana dalam lanjutan ayat yang telah disebutkan;

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” [Al-Baqarah : 185]

Maka bila dicermati hikmah yang disebutkan tadi, dapat dikatakan –wallahu a’lam- bahwa yang lebih afdhal bagi seseorang adalah yang lebih mudah baginya. Hamzah bin Amr Al-Aslami –radhiyallahu ‘anhu- bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَام

“Apakah boleh aku berpuasa dalam safar ?” –Beliau adalah seorang yang banyak melakukan puasa-. Maka Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda;

إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِر

“Berpuasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau.”.[16]. Anas bin Malik -Radhiyallahu ‘anhu- berkata :

كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ

“Aku pernah melakukan safar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan, orang yang puasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa.”.[17]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

إن الله يحب أن تؤتى رخصه ، كما يحب أن تؤتى عزائمه

“Sesungguhnya Allah suka jika rukhsah (keringanan) yang diberikannya dilaksanakan, sebagaimana Ia menyukai diamalkannya perkara-perkara yang ditegaskannya.”[18], artinya –wallahu a’lam- bahwa kedua-duanya adalah hal yang boleh dilaksanakan tergantung kemudahan yang dirasakan oleh orang yang menjalaninya.

Namun hal yang sudah tentu tercela adalah memaksakan diri tetap berpuasa dalam safar, meski sebenarnya ia berat untuk melaksanakannya. Hal demikianlah yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya;

لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ

“Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar.”.[19]. Bahkan –boleh jadi- puasa yang dipaksakan tersebut akan berubah hukumnya menjadi haram yaitu bila ada kemudharatan yang dapat membahayakan jiwa orang tersebut. Hal demikianlah yang disebutkan dalam riwayat Jabir –radhiyallahu ‘anhuma-;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى مَكَّةَ عَامَ الْفَتْحِ فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ وَصَامَ النَّاسُ مَعَهُ فَقِيلَ لَهُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ شَقَّ عَلَيْهِمْ الصِّيَامُ وَإِنَّ النَّاسَ يَنْظُرُونَ فِيمَا فَعَلْتَ فَدَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ بَعْدَ الْعَصْرِ فَشَرِبَ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ فَأَفْطَرَ بَعْضُهُمْ وَصَامَ بَعْضُهُمْ فَبَلَغَهُ أَنَّ نَاسًا صَامُوا فَقَالَ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ

”Pada tahun ’Fathu al Makkah’ di bulan Ramadhan, Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam- pergi ke Mekkah. Beliau pergi (safar) dalam keadaan berpuasa, dan begitu pula para sahabat yang turut mendampingi Beliau. Ketika telah sampai di sebuah tempat yang bernama ’Kuraa’ al ghamiim’, dikatakan kepada Beliau; ’sesungguhnya banyak orang yang berat melaksanakan puasa, dan sesungguhnya mereka menunggu apa yang engkau contohkan kepada mereka’. Mendengar pengaduan itu, Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam- menyuruh seorang sahabat untuk mengambilkan air. Kemudian Beliau mengangkatnya hingga para sahabat menyaksikannya, lantas Beliau meminum air tersebut (membatalkan puasanya), yaitu setelah shalat Ashar. Melihat hal tersebut, para sahabat pun turut membatalkan puasa mereka. Hanya saja, sebagiannya masih terus berpuasa. Mengetahui hal itu, Rasulullah –shallallahu ’alaihi wa sallam- bersabda terhadap orang-orang yang masih saja berpuasa ketika itu; ’Mereka itulah orang-orang yang berdosa’.”[20].

 

Bagi Yang Wajib Mengqadha Puasanya, Apakah Wajib Mengqadhanya Secara Berturut-turut atau Boleh Melaksanakannya Secara Berselang-seling ?

Dalam masalah ini pun ulama berbeda pendapat, beberapa ulama menyatakan wajib mengqadhanya secara berturut-turut. Diantara dalilnya adalah riwayat Abu Hurairah –radhiyallahu ’anhu-, dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-;

مَنْ كَانَ عَلَيْهِ صَوْمٌ مِنْ رَمَضَانَ فَلْيَسْرُدْهُ وَلاَ يُقَطِّعْهُ

”Barangsiapa berkewajiban mengqadha puasanya, maka hendaklah ia melaksanakannya secara berturut-turut dan janganlah ia menyelanya.”[21].

Adapun pendapat dari mayoritas ulama menyatakan bahwa mengqadhanya secara berturut-turut adalah hal yang baik, tetapi bukanlah merupakan sebuah kewajiban. Olehnya, Allah -ta’ala- menyatakan kewajiban mengqadha itu secara mutlak dan tidak menyebutkan waktu atau aturan tertentu dalam waktu pelaksanaannya (tentu selama belum tiba Ramadhan selanjutnya berdasarkan keterangan dari Abi Hurairah  yang akan dibawakan setelah ini). Allah -ta’ala- berfirman;

فعدة من أيام أخر

“Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.”[22]. Muhammad bin al-Munkadir –rahimahullah- berkata;

بَلَغَنِى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ عَنْ تَقْطِيعِ قَضَاءِ صِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ « ذَاكَ إِلَيْكَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أَحَدِكُمْ دَيْنٌ فَقَضَى الدِّرْهَمَ وَالدِّرْهَمَيْنِ أَلَمْ يَكُنْ قَضَاءً فَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ يَعْفُوَ وَيَغْفِرَ.

“Pernah disampaikan kepadaku, bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah ditanya tentang mengqadha puasa secara tidak berturut-turut. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; bagaimana pendapatmu bila salah seorang dari kalian memiliki hutang, lantas ia mencicilnya ?. Bukankah dengan cara demikian pun ia telah melunasinya ?. Demikianlah Allah -ta’ala-, Ia adalah Zat yang lebih memaafkan dan mengampuni.”.[23]

 

Barangsiapa Berkewajiban Mengqadha Puasa, Lantas Ia Melalaikannya dan Tidak Melakukannya Hingga Tiba Ramadhan Selanjutnya; Adakah Kewajiban Tertentu Buat Orang Tersebut ?

Ada riwayat dari Abu Hurairah ––radhiyallahu ’anhu- tentang orang yang melalaikan qadha puasa Ramadhan hingga tiba Ramadhan selanjutnya, Beliau berkata;

يَصُومُ هَذَا مَعَ النَّاسِ وَيَصُومُ الَّذِى فَرَّطَ فِيهِ وَيُطْعِمُ لِكُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا. إِسْنَادٌ صَحِيحٌ مَوْقُوفٌ

”Wajib baginya berpuasa pada bulan itu, kemudian mengganti puasa yang ditinggalkannya pada Ramadhan yang lalu, serta memberi makan seorang miskin sejumlah hari yang ditinggalkannya pada Ramadhan yang belum ia ganti tersebut.[24]” Demikianlah pendapat dari jumhur ulama.”[25]

Adapun bagi seorang yang berbuka karena sakit, dan sakitnya itu berkepanjangan hingga tiba Ramadhan selanjutnya sebelum ia sempat membayarnya, maka keadaan ini dijelaskan oleh Abu Hurairah –radhiyallahu ’anhu-;

إِذَا لَمْ يَصِحَّ بَيْنَ الرَّمَضَانَيْنِ صَامَ عَنْ هَذَا وَأَطْعَمَ عَنِ الْمَاضِى وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ وَإِذَا صَحَّ فَلَمْ يَصُمْ حَتَّى أَدْرَكَهُ رَمَضَانُ آخَرُ صَامَ هَذَا وَأَطْعَمَ عَنِ الْمَاضِى فَإِذَا أَفْطَرَ قَضَاهُ

“Apabila seorang masih sakit antara dua Ramadhan (baru sembuh ketika Ramadhan ke-2), maka ia berkewajiban puasa Ramadhan yang hadir, dan memberi makan sejumlah hari yang luput pada Ramadhan sebelumnya, dan tidaklah ia berkewajiban untuk mengqadha puasanya yang luput karena sakit itu. Tetapi apabila ia telah sembuh sebelum tiba Ramadhan selanjutnya, namun ia melalaikan mengqadha puasanya, maka wajib baginya berpuasa pada bulan itu, memberi makan seorang miskin sejumlah hari yang ditinggalkannya pada Ramadhan yang belum ia ganti, kemudian mengganti puasa yang ditinggalkannya pada Ramadhan yang lalu.”[26]

Bagaimana Kadar Makanan Yang Wajib Diberikan ?

Abu Hurairah –radhiyallahu ’anhu- berkata;

مُدًّا مِنْ حِنْطَةٍ لِكُلِّ مِسْكِين

”Satu mud gandum untuk setiap orang miskin.[27]”, yaitu kurang lebih 600 gr atau lebih hati-hati dibulatkan menjadi 1 kg.[28]

Bagaimana Dengan Seorang Yang Berbuka Dengan Sengaja Ketika Ia mengqadha Puasanya, Adakah Kewajiban Tertentu Baginya ?

Diantara ulama ada yang berpendapat bahwa ia berkewajiban melaksanakan dua kali puasa, yaitu qadha dari puasa yang ia tinggalkan dan qadha terhadap puasa qadha yang sengaja ia batalkan.

Namun pendapat yang lebih tepat menyatakan bahwa ia hanya berkewajiban untuk kembali mengulang puasa qadha yang telah dibatalkannya itu. Demikianlah dzahir dari firman Allah -ta’ala-;

فعدة من أيام أخر

“Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu.”.

Olehnya, ketika ia telah melaksanakannya, tepatlah dinyatakan bahwa ia telah melunasi kewajibannya membayar qadha.

Bila seorang tidak berpuasa karena sebab yang dibenarkan, lantas ia meninggal dunia sebelum sempat membayarnya, maka adakah kewajiban tertentu berkenaan dengannya ?.

Ibnu ’Abbas –radhiyallahu ’anhuma- berkata;

إذا مرض الرجل في رمضان ثم مات ولم يصم أطعم عنه ولم يكن عليه قضاء وإن كان عليه نذر قضى عنه وليه

“Apabila seorang sakit di bulan Ramadhan, lantas ia meninggal dunia sebelum sempat membayarnya; hendaklah dikeluarkan dari hartanya untuk memberi makan orang miskin (sejumlah hari yang ia tinggalkan), tidak wajib untuk menggantikan puasanya. Namun bila yang ditinggalkannya itu adalah puasa nadzar, maka hendaklah walinya menggantikan puasa si mayit tersebut.”.[29]

  1. Orang-Orang Yang Tidak Mampu Berpuasa

Diantara golongan yang diberikan keluasan untuk tidak berpuasa adalah orang-orang tua yang tidak lagi sanggup untuk berpuasa. Firman Allah -ta’ala- ;

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ _ البقرة/184

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata;

نزلت هده الآية رخصة للشيوخ والعجزة خاصة إذا أفطروا وهم يطيقون الصوم، ثم نسخت بقوله “فمن شهد منكم الشهر فليصمه” [البقرة: 185] فزالت الرخصة إلا لمن عجز منهم

“Ayat ini pada awalnya merupakan rukhsah (keringanan) khusus bagi orang-orang tua yang tidak ingin berpuasa sedang mereka sanggup untuk berpuasa. Namun selanjutnya, ayat ini dihapus hukumnya dengan firman-Nya; ”Maka barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan hilal, hendaklah ia berpuasa.”. Setelah turunnya ayat tersebut gugurlah keringanan itu kecuali bagi orang-orang tua yang tidak lagi sanggup untuk berpuasa (tetaplah rukhsah itu bagi mereka).[30]

Diikutkan pula dengan hukum orang-orang tua yang tidak lagi sanggup untuk berpuasa yaitu wanita yang menyusui dan wanita hamil. Keduanya boleh berbuka dan wajib membayar fidyah. Diriwayatkan dari Ibnu ’Abbas –radhiyallahu ’anhuma- bahwa pernah Beliau berkata kepada budak wanitanya yang tengah hamil atau melahirkan;

أَنْتِ مِنَ الَّذِينَ لاَ يُطِيقُونَ الصِّيَامَ عَلَيْكِ الْجَزَاءُ وَلَيْسَ عَلَيْكِ الْقَضَاءُ

“Engkau termasuk orang-orang yang tidak mampu berpuasa. Wajib bagimu membayar fidyah, dan tidak ada kewajiban membayar qadha atasmu.”[31]

 

Tingkatan Diwajibkannya Puasa

Awal syari’at berpuasa itu dimulai ketika Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tiba di Medinah. Ketika itu, Beliau berpuasa tiga hari dalam setiap bulan dan ditambah dengan puasa Asyura’. Lantas Allah -ta’ala- menurunkan firman-Nya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”. Ketika itu diwajibkanlah berpuasa Ramadhan, sebagai ganti dari dua puasa yang sebelumnya.

Namun waktu itu, orang-orang diberikan keluasan untuk memilih antara puasa atau memberi makan kepada seorang fakir miskin (membayar fidyah). Kata Allah -ta’ala-;

فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”, maksudnya barangsiapa yang berbuka dan memberi makan kepada lebih dari seorang miskin, maka hal itu adalah sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya berpuasa itu adalah lebih baik daripada berbuka puasa dan memberi makan kepada seorang fakir miskin atau lebih. Demikianlah awal dari syari’at puasa ini sebelum turun ayat setelahnya yang mengkhususkan atau menghapus hukum dari ayat tersebut.

Maka setelah turun firman-Nya;

فمن شهد منكم الشهر فليصمه

“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” Tetaplah kewajiban puasa atas seluruh manusia kecuali bagi orang-orang sakit, musafir dan orang-orang tua yang tidak lagi sanggup untuk berpuasa.”. [32]

Bersambung … walillahil hamdu

_________________________

[1] HR. Bukhari, no. 1758, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 3

[2] Lihat al-Jaami’e li Ahkaami al-Quran, oleh imam al-Qurthubi, (2/276), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 3 .

[3] Lihat Hadyu as-Saari Muqaddimah Fathu al-Baari, oleh Ibnu Hajar, 1/488, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 3

[4] Lihat at-Tahdziib fi Adillati Matni al-Ghaayati Wa at-Taqriib, oleh Dr. Musthafa Diib al-Bughaa. Lihat juga Fataawa al-Lajnah ad-Daaimah li al-Buhuuts al-Ilmiyyah Wa al-Iftaa’, 12 / 263, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 3

[5] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, 4/231

[6] Lihat Majmu’ Fataawa, 5/385, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[7] Lihat Syrhu Zaad al Mustaqni’e, oleh syaikh Hamd bin Abdullah al Hamd

[8] HR. Bukhari, no. 3960, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[9] HR. Abdul Razzaq di dalam al Mushannaf, (2/533) , al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09).

[10] HR. Abdul Razzaq di dalam al Mushannaf, (2/533) , al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09).

[11] HR at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh syaikh Muhammad Nashiruddin al-Baani, dalam Shahih wa Dhaaif Sunan at-Tirmidzi, no. 729, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09). Lihat juga “Tashiih Hadiits Ifthaari as Shaaim Qabla Safarihi Ba’da al Fajri”, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Baani.

[12] Al Jaami’e li Ahkaami al Qur’an, oleh Imam al Qurthubi, (2/280), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 3

[13] -sda-

[14] HR Abu Daud, no. 2055, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[15] HR. Bukhari, no. 1811, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[16] HR. Bukhari, no. 1807, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[17] HR. Bukhari, no. 1811

[18] HR. Ibnu Hibban, no. 355, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[19] HR Abu Daud, no. 2055 , al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[20] HR. Tirmidzi, no. 644, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[21] HR. Daraquthni, no. 2337, dan dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin al Baani. (Lihat Silsilah al Ahaadits ad dhaiifah, (1/23-24) , al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[22] Lihat Shahih Bukhari, (7/46), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[23] HR. Daraquthni, no. 2357. Ulama berbeda pendapat dalam menilai keabsahan hadits ini. Lihat penjelasan sanadnya di dalam ‘at Talkhiishu al Habiir fi Ahaadits ar Raafi’ie, (3/64), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[24] HR. Daraquthni, no. 2368, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[25]Fath al-Baari, oleh Ibnu Hajar, (6/208), al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[26] HR. ad-Daaraquthni, no. 2373, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[27] HR ad-Daaraquthni, no. 2368, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[28] Lihat at-Tahdziib Fi Adillati Matni al-Ghaayah wa at-Taqriib, hal. 105, dan dikutip dari penjelasan syaikh Abu Bakar al-Jazaairi dalam rekaman ceramahnya.

[29] HR Abu Daud, lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, 5/401, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09)

[30] Lihat Shahih Bukhari, no. 4145, dan penjelasannya dalam Fath al-Baari, oleh Ibnu Hajar, al Maktabah as Syaamilah, Vol. 2 (2.09).

[31] HR ad-Daaraquthni, (6/152)

[32] Lihat Tafsir al-Quran al-‘Adzhim, oleh Ibnu Katsir, (1/498-499) dan Tafsir al Qurthubiy, (2/288)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: